


Perutku bisa teramat sangat sehingga suamiku tak tahan mellihatnya, dia membawa aku keclinic. Doktor menasihatkan agar aku berehat dan makan ubat. Seperti biasa aku tak suka makan ubat tetapi aku telan jua ubat yg pahit itu.Didalam hatiku berkata kata sakit itu ada hikmahnya. Lihat dan perhatikan dan analisa apa yang akan terjadi. Aku mencari huraian yg tersimpul itu. Padaku yg baik jadikan contoh tauladan dan yang buruk dijadikan sempadan agar aku berwaspada.

Alhamdulillah. Bersyukur aku pada Maha Suci Allah dan berterima kasih aku padaNya kerna memberikan nikmat sakit yang mempunyai banyak hikmahnya. Kini aku lebih menerima apa saja yang diberikan olih Maha Suci Allah. Aku pasrah dan bertawakal padaNya, kerna itulah tuntutanNya.
“Laa Hau la wala quwata illa billah.”
Tiada daya dan upaya melainkan anugerah Allah s.w.t.
“Inna Lillillahi wa-inna ilai-irajiun”
Kami datang dari Allah s.w.t dan kepada Allah s.w.t kami kembali
Tiada daya dan upaya melainkan anugerah Allah s.w.t.
“Inna Lillillahi wa-inna ilai-irajiun”
Kami datang dari Allah s.w.t dan kepada Allah s.w.t kami kembali

Sebagai hamba Allah, aku kenalah redha dan terima ujian yang diberikan walaupun ia pahit utk aku melaluinya. Hati ini berkata lagi kenapa apabila mendapat kesenangan, kita rasa gembira dan bila ditimpa kesusahan kita mengeluh. Kini aku sedar disebalik sakit atau musibah yang diberi bukanlah kebencian Maha Suci Allah pada kita, malahan ia adalah satu nikmat, nikmat yg terselindung, dimana hanya Maha Suci Allah saja yang tahu. SubhanaAllah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa illahaillaAllah, Laa Hau la wala quwata illa billah. Inna Lillillahi wa-inna ilai-irajiun.
